Pages
Monday, December 31, 2012
Lahirnya Daie Sejati
Monday, April 11, 2011
Kisah Da'wah# 3
Monday, April 4, 2011
Bersabarlah Atas Beban Dakwah
Bismillah..
Menurut Al-Qur’an sabar yang keempat adalah sabar atas beban dakwah kepada Allah. Sebab para da’i menuntut menusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan kosong, adat kebiasaan mereka, memberontak kepada syahwat, sembahan nenek moyang, tradisi kaum, da superioritas kelas atau keturunan, memberikan sebagian yang mereka miliki kepada saudaranya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dalam bentuk perintah dan larangan, halal dan haram.
Sementara kebanyakan manusia menentang dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, seperti menghadapi perlawanan yang menggunakan segala bentuk senjata, harta, kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruh dan sebagainya.
Tidak ada jalan lain bagi para da’i kecuali harus berpegang teguh dengan keyakinan serta bersenjatakan kesabaran dalam menghadapi kekuatan dan kekuasaan tiran.
Sabar di sini seperti dikatakan Imam Ali ra, merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan cahaya yang tak bisa redup. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan hadist shahih,
“Sabar adalah cahaya”.
Inilah rahasia dikaitkannya antara tawashibish-shabri dan tawashi bil haqqi dalam surat al-Ashr,
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr [103] : 1-3)
Sebab, kebenaran tidak dapat dipertahankan kecuali dengan sabar. Juga merupakan rahasia dikaitkannya kesabaran dengan amar ma’ruf dan nahi munkar di dalam wasiat Lukman Hakim kepada anaknya,
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah manusia dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman [31] : 17)
Seolah-olah dia berpesan, selama engkau menyeru kepada manusia kepada kebaikan, memerintah mereka melakukan yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar, maka persiapkanlah dirimu yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.
Beban-beban dakwah kepada Allah wujudnya beraneka ragam, di antaranya yang disebutkan al-Qur’an sebagai berikut,
Pertama, dalam bentuk keberpalingan manusia dari juru dakwah. Sesuatu yang dirasa paling menyesakkan dada seorang juru dakwah ialah penolakan manusia terhadap dakwah yang telah diserukannya.
Hal ini dapat kita lihat dalam munajat Nabi Nu as kepada Allah, ketika mengadukan ikhwal kaumnya yang menolak dakwahnya.
“Berkata Nuh, Rabbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenarana). Dan sesungguhnya setiap aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat” . (QS. Nuh [71] : 5-7)
Dalam dakwah Nabi Hud as ketika kaumnya berkata,
“Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepad kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali akan meninggalkan sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kami”. (QS. Hud [11] : 53)
Juga dapat kita lihat dalam dakwah Nabi Muhammad saw ketika Allah menjelaskan sikap kaumnya kepadanya,
“Haa Miim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, sebagai berita gembira da peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya), maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata : Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamuj seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan diantara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula”. (QS. Fushilat [41] : 1-5)
Oleh sebab itu, Allah bersifat kepada Rasul-Nya,
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janglanlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka”. (QS. An–Nahl [16] : 127)
Juru dakwah yang telah mencontohkan bentuk ini secara mengagumkan adalah Nuh as, ketika ia menghadapi keberpalingan dan rintangan yang tidak pernah lagi dihadapi oleh juru dakwah sesudahnya.
Dalam bentuk gangguan manusia dengan ucapan atau perbuatan. Tidak ada sesuatu yang paling menyedihkan sesorang da’i yang mukhlis, yang bersih dari hawa nafsu dan sangat mencintai kebaikan bagi manusia, daripada sikap manusia yang menyambut nasihatnya dengan tuduhan-tuduhan palsu, yang menolak seruannya ke jalan Allah dengan kekerasan, yang membalas kebaikannya dengan kejahatan, yang menuduh aktivitasnya yang konstruktif dengan merongrong keamanan negara.
Kadang-kadang persoalannya tidak h anya sampai di sini. Para thagut itu bahkan seringkali merampas hartanya, menyiksa tubuhnya, memasung kebebasannya, menodai kehormatannya, menghabisi nyawanya, ata mengusirnya dari negara kelahirannya.
Inilah yang pernah disumpahkan al-Qur’an tentang kepastian terjadinyanya terhadap da’I Allah. Ketika Kitabullah menjelaskan hal itu kepada kaum Mukminin agar mempersiapkan dirinya dengan senjat sabar,
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji menyangkut hartamu dan dirimu, dan juga kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang di beri Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang hygn mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang m enyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu urusan yang patu diutamakan”. (QS. Ali Imran [3] : 186)
Dari sini kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar atas gangguan kaumnya.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”. (QS. Al-Muzammil [73] : 10)
Semua nabi telah mencontohkan secara baik bentuk sabar ini. Karena itu, Allah memberikan pujian dan kemuliaan bagi mereka yang bersabar di jalan dakwah dan jalan-Nya. Wallahu’alam.
Monday, March 28, 2011
Cerita Da'wah #2
Prolog Da’wah #2
Perawi yang lain bercerita, “pernah aku ditugaskan oleh lembaga tempatku beraktivitas, untuk berkeliling di petang hari. Saat irulah aku berjumpa dengan beberapa orang pemuda yang suka bersembang ke sana ke mari dan melakukan hal-hal yang sia-sia dan lalai belaka. Ketika aku melihatnya, berbisik di hatiku; besok aku akan mendatanginya untuk menunaikan kewajipanku menasihati mereka. Namun, syaitan berhasil menggodaku untuk menangguhkan niatku itu....
Setelah hampir sebulan, aku baru mampu melawan godaan itu, lalu aku menemui mereka serta berbasa-basi sejenak, bahwa aku telah berniat mengunjungi mereka sejak sebulan yang lalu. Kemudian aku sampaikan kepada mereka kewajipan-kewajipan seorang Muslim kepada mereka jawabnya terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, serta terhadap keluarga. Aku pun menerangkan kepada mereka hakikat kematian dan kedatangannya yang dapat merenggut jiwa manusia bila-bila saja, pentingnya amal soleh dan menjauhi aneka kesiaan dan kemaksiatan, serta nasihat-nasihat yang lainnya.
Kulihat respon di wajah mereka menunjukan tanda-tanda terpengaruh dengan kata-kataku. Bahkan sebahagian mereka mencucurkan air matanya menyadari perilaku dirinya yang memprihatinkan itu. Setelah selesai aku bercerita, salah seorang dari mereka tampak berupaya menghimpun kekuatannya, lalu tiba-tiba mencercaku dengan suara penuh penekanan, “ hai abang, mengapa engkau tak nasihati kami sebelum ini!! Padahal telah sebulan lamanya engkau melihat keadaan kami yang buruk ini, dan mengapa engkau tidak peduli? Bagaimana kelak nasib kami, jika kematian itu datang, sedangkan kami tidak berada dalam ridha Allah SWT dan RasulNya? Bukankah engkau pun akan ditanya akan hal itu di hari kiamat kelak? Mana tanggungjawabmu menegur kami semenjak engkau melihat kami waktu itu?!.”
Ketika aku berpaling dari mereka, lanjut perawi itu, aku merasakan kebahagiaan, sekaligus kesedihan di saat yang sama. Aku bahagia karena mereka mau bertaubat dan melihat antusias untuk beristiqamah. Namun, aku pun sedih kerana kekurang pekaanku untuk menasihati orang-orang yang dangkal ilmu dan wawasannya serta semua yang memelurkan, sekalipun sekilas mereka tidak akan menerimaku.
*****
“Amat jelas tugas kita para Da’i untuk memberi peringatan dan menyampaikan da’wah kepada masyarakat. Tahu kah kamu para Da’i bahawasanya kamu adalah ubat kepada penyakit keimanan kepada masyarakat. Wahai para Da’i jangan takut dan jangan gentar berda’wah dijalan Allah SWT kerana Surah ke 47:7 akan sentiasa menjadi pegangan. Para Da’i tugas kita tak lain tak bukan menyeruh ke Jalan Allah SWT bukan kah itu lebih baik ucapannya Surah 41:33.”
wallahu'alam...
BERSAMBUNG....
Tuesday, March 22, 2011
Cerita Da'wah #1
Prolog Da’wah #1
Seorang perawi bercerita, “pernah suatu hari kami merasakan kegembiraan dan keharuan ketika saat itu kami menyaksikan seorang lelaki berasal dari Filipina melafaskan Dua Kalimah Syahadat serta mengumumkan keislamannya".Ia melepaskan diri dari agamanya dahulu yang batil dan dari keyakinannya yang meyimpang... namun, kegembiraan itu tak sampai pada puncaknya. Kerana kami melihat aura kebahagian yang terpancar dari mukanya setelah rasmi masuk agama yang haq ini, tiba-tiba berbalik menampakkan raut muka sedih dan galau. Tak lama kemudian, terlihat air matanya pun bercucuran...
Sejenak kami membiarkannya, seraya berfikir apa gerangan yang berkecamuk di hatinya dan masing-masing kami hanya saling berpandangan antara satu sama lain; merasa heran dengan yang kami lihat. Ketika ia mulai kelihatan tenang, kami meminta seorang penerjemah untuk menanyakan mengapa tiba-tiba ia menangis. Tahukah kalian apa jawapannya? Sungguh kami semua terpegun mendengarnya, ia mengatakan, “sesungguhnya aku brsyukur kepada Allah SWT yang telah mencurahnkan nikmat-Nya kepadaku, hingga aku bisa masuk islam serta Allah SWT menyelamatkanku dari api neraka dan tidak membiarkanku berada dalam kekufuran. Akan tetapi, sungguh sekarang aku memikirkan keadaan ayah dan ibuku yang telah meninggal dalam kekufuranya. Bukankah kalian bertanggungjawab untuk membimbing mereka? Mengapa kalian tidak pernah menda’wahi mereka dan orang-orang sesat lainnya ke dalam islam? Mengapa kalian tidak menunaikan kewajiban kalian terhadap agama yang haq ini dan menyebarkannya kepada mereka yang penuh rasa dahaga, bahkan melebihi dahaga mereka terhadap makanan dan minuman? Mengapa.....mengapa...?!”
Semua orang menggigil, terpana, dan tiba-tiba dilanda perasaan bersalah seraya mengakui reality pahit seperti yang dikemukakannya itu. Kata-katanya begitu menyentuh hati, hingga mereka pun berfikir; ya, ke mana sebagian orang yang enggan menunaikankewajiban da’wah ini? Supaya mendengar pula kata-kata lelaki ini, dan menyadari agungnya risalah dan amanah yang diemban oleh masing-masing mereka!
wallahu'alam...
BERSAMBUNG....
*****************
Saturday, March 19, 2011
Tidak Ada Alasan Bagimu Meninggalkan Da'wah!!!
Luahan seorang Da’i
Kepada para pelajar dan guru-guru
Kepada setiap pemuda dan para pekerja
Kepada semua orang yang perihati dengan
Berita-berita buruk tentang keadaan kaum
Muslimin yang tampak di layar kaca dan
media-media cetak.
Kepada semua orang yang miris hatinya
Melihat aneka kemungkaran dan kemaksiatan
Yang semakin bermaharajalela di mana-mana
Kepada setiap muslim dan muslimat yang
Masih terdapat denyut keimanan di hatinya.
Kupersebahkan luahan seorang da’i
Untuk risalah dakwah ini..
*****
Kali ini ana mahu berkongsi sebuah buku yang menggetarkan dan menguatkan hati-hati para pendakwah diluar sana. Dengan tercatitnya risalah ini dan insyaAllah mampu menjadi bahan tambahan menuju da’wah islamiyah dan mencari redha Allah SWT...
Mungkin ada di antara antum sekalian telah memiliki atau membaca buku ini. Akan tetapi ana yakin ramai dikalangan antum semua belum melihat apatalagi membaca wasiat yang terkandung di dalamnya..
Dengan tajuk “TIDAK ADA ALASAN BAGIMU MENINGGALKAN DA’WAH” karya Abdul Aziz Al-Aidin.
Tahukah UkhwahFillah sekalian:
“Sesungguhnya setiap Muslim adalah da’i!
Dipundaknya terpikul tugas amar ma’ruf nahi mungkar!”
....
Oleh itu, marilah kita menghayati kata-kata Allah berikut:
Allah SWT berfirman dalam surah Fushshilat :33
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Ada...Surah Muhammad:7
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
*****
BERSAMBUNG....
